itu benci.
Ya gw benci dengan segalanya yang selama ini gw sembunyikan. Setiap kata yang tersembunyi di dalam otak ini, yang terus menunggu, bagaikan bom waktu, untuk dikeluarkan. Bukan, gw bukan menanti saat yang tepat, tapi gw terlalu bersabar dengan kesakitan ini. Sampai saat ini, detik ini, saat luka itu kembali robek, mereka tetap tak perduli. Tetap tak mengerti. Disaat itulah gw mengerti bahwa kata mungkin telah kehilangan maknanya.
Gw bukanlah pencerita yg tepat untuk melukiskan sebuah cerita, layaknya pendongeng. Gw ga pernah bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk memulainya. Mungkin gw takut, orang ga akan mengerti. Karena posisi mereka dan gw berbeda. Ya, gw tau ga ada manusia yg sama. Itulah yg membuat gw selalu bingung dan akhirnya membanding-bandingkan hidup mereka dgn gw. Menyedihkan ya?
Bukan berarti gw ga bersyukur dengan apa yang gw punya, hanya saja, rasanya hidup gw belum maksimal. Segalanya belum pas. Ada saja yang membuat gw merasa kurang dengan hidup. Dan setiap gw menemukan partikel yg kurang itu, mereka selalu ga percaya..
Mereka bilang, hidup gw lengkap. Tapi mereka ga tau betapa kosongnya gw. Mereka bilang, mereka bilang, mereka bilang.. selalu saja ada yg mereka bilang. Tapi bagaimana dengan menurut (hati) gw?
Apa tangis gw selama ini cuma ilusi?
Apa segalanya yang gw tahan di dada sampai gw merasa sesak ini cuma kebohongan semata?
Lalu, gw itu apa sebenarnya?
Kemarin, pas gw nangis di depan cermin, gw melihat sosok lain yg terpantul disana. Bukan gw yang sekarang, tapi gw yang masih kecil. Anak kecil yg menangis karena kesadarannya muncul akan sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Bukan permen. Bukan coklat. Tapi kebebasan. Kedamaian.
Bahkan tempat dimana seharusnya gw merasa aman, nyaman, hangat pun telah hilang..
Dan disinilah gw, kehilangan (lagi) kata-kata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar